Nama :
Maharany Amalia Wardhany
NPM : 1041010001
NPM : 1041010001
Jurusan : Administrasi Negara
UNIVERSITAS
PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN
“JAWA TIMUR” SURABAYA
Utilitarianisme
ialah
teori etika yang juga dikenali sebagai consequentialism yang membuat
kita berpikir mengenai kebaikan terbesar (kenikmatan) untuk jumlah terbanyak,
dan cedera terkecil (rasa sakit) untuk jumlah terkecil. Tetapi, kadang-kadang
menjadi sangat sulit untuk memberi nilai pada rasa sakit dan kenikmatan untuk
orang yang berbeda. Bagaimana kita menyeimbangkan melindungi otonomi seseorang
atau otonomi atau kepentingan semua orang lain?
Aristoteles
dalam Nicomachean
Ethics menulis bahwa moralitas ialah pencarian “kebaikan akhir”
atau “kebaikan unggul”. Ini dapat diterima, tetapi pertanyaannya ialah tetap
bagaimana mendefinisikan kebaikan akhir itu? Kebaikan akhir itu seringkali
ditafsirkan sebagai kebahagiaan, yang membawa kita ke satu teori utama
teleologi, utilitarianisme. Utilitarianisme memandang pada konsekuensi suatu
tindakan, dan didasarkan pada karya Jeremy Bentham (1748-1832) dan John Stuart
Mill (1806-1873). Ada kesamaan sejarah dengan pemikir lain dalam kebudayaan
yang berbeda, misalnya apa yang diajarkan oleh Mo Tzu di Cina dalam abad ke-6
SM. “Prinsip
utilitas menekankan bahwa kita perlu selalu menghasilkan keseimbangan maksimum
antara kesenangan/kenikmatan atas rasa sakit, atau kebaikan atas cedera, atau
nilai positif atas tak-bernilai.”
Jeremy Bentham (1748-1832) dan John
Stuart Mill (1806-1873) adalah dua orang tokoh yang dikaitkan dengan
teori ini. Bentham mengenal pasti 7 elemen yang perlu dipertimbangkan untuk
mengukur keseronokan mencipta kalkulus Hedonistik Bentham yang memberi skala
antara -10 hingga +10.
Elemen yang dimaksudkan oleh Jeremy
Bentham ialah:
1.
Intensiti
2.
jangka masa
3.
kepastian
4.
Kesegeraan
5.
kesadaran
6.
keberkesanan
7.
dan had atau batasan.
1. Intensiti bermaksud kedalaman.
Sejauh manakah dalamnya kesan pengalaman terhadap seseorang.
2. Jangka masa. Berapa lamakah
keseronokan atau kesengsaraan akan berakhir?
3. Kepastian. Adakah anda pasti sama
ada mengalami keseronokan atau kesengsaraan akibat sesuatu yang berlaku.
4. Kesegeraan. Kepantasan anda
mengalami rasa seronok atau sebaliknya.
5. Kesadaran. Apakah kemungkinan anda
mengalami rasa seronok pada masa akan datang?
6. Keberkesanan. Apakah kemungkinan
anda mengalami rasa sengsara pada masa hadapan?
Mangsa tragedi selalunya sentiasa
berasa takut dan risau
7. Had atau batasan. Berapa kerapkah
kesengsaraan dan keseronokan dicetuskan dalam kehidupan orang lain? Jika jumlah
skor kesengsaraan melebihi keseronokan maka sesuatu perbuatan tersebut adalah
sememangnya salah dan tidak beretika.
Mill membedakan antara
keseronokan dengan memasukkan aspek kualiti. Mill mengukur kualiti dan kuantiti
sekaligus. Menurut Mill, petunjuk kualiti keseronokan adalah seperti
tinggi/rendah, baik/buruk, objektif/subjektif, dan baru/lama. Faktor yang boleh
mempengaruhi keseronokan pula ialah kecerdikan, pendidikan, sensitiviti,
bermoral dalam tindakan dan
kesihatan yang baik.
Utilitarianisme pada peringkat paling rendah dipanggil ‘act utilitarinisme’.
Kita harus bertanya kepada diri sendiri mengenai kesan akibat
sesuatu tindakan dalam keadaan tertentu ke atas pihak-pihak yang terlibat
sebelum sebarang tindakan diambil. Sekiranya tindakan tersebut
menghasilkan kebaikan maka ia dianggap betul.
Awalnya
ahli-ahli filsafat yang mengikuti jalan berpikir ini memfokuskan pada nilai
kebahagiaan; tetapi, akhir-akhir ini nilai intrinsik termasuk persahabatan, pengetahuan,
kesehatan, keindahan, otonomi, pencapian dan sukses, pemahaman, kesenangan dan
hubungan pribadi yang mendalam telah ditambahkan. Utilitarianisme dapat berupa
hal yang dingin dan berperhitungan, tetapi telah dinyatakan oleh para
pendirinya dan orang-orang lain sebagai yang merupakan pernyataan cinta
persaudaraan. Utilitarianisme secara internal koheren, sederhana dan menyeluruh
dan dapat memecahkan dilema. Kita dapat juga mempersoalkan kebahagiaan untuk
orang yang akan hadir (potensial), jadi menerapkannya bagi persoalan reproduksi
manusia.
Tetapi,
mungkin tidak ada konsekuensialis murni. Jika ada sedikit perbedaan dalam
konsekuensi, sebagian besar orang akan memandang salah untuk mengingkari janji,
dan akan mengambil keputusan atas dasar keterikatan itu. Semua masyarakat
menerima sejenis hak milik, dan sebagian besar tidak menerima mencuri dari si
kaya untuk diberikan pada si miskin, walaupun ini akan menolong lebih banyak
orang. Tetapi, banyak masyarakat menerima skala pajak yang berbeda, mengenakan
pajak terhadap penerima penghasilan yang lebih tinggi semakin besar. Kebanyakan
orang menghargai motif yang baik di atas motif jelek, walaupun konsekuensinya
dapat sama. Juga pemikiran para konsekuensialis mungkin memperkenankan
pelanggaran hak-hak asasi manusia, dan dapat secara berlebihan membatasi
otonomi.
Masalah etika
lain dari utilitarianisme ialah bahwa kepentingan dari mayoritas lebih penting
dari kepentingan golongan minoritas, karena utilitas harus dimaksimumkan.
Dengan cara ini hal ini bersesuaian dengan demokrasi, dan sistem referendum
untuk menentukan kebijakan umum dan hukum. Membuat sebagian besar orang
berbahagia dalam sebagian besar waktu lebih penting, walaupun sedikit orang
atau organisme boleh jadi tidak berbahagia. Tetapi, untuk membuat orang
berbahagia menjadi satu sasaran pokok cinta
Jenis-jenis
Utilitarianisme
1.
Act utilitarianism
Ciri
yang pertama adalah merekodkan akibat sesuatu perbuatan sama ada bermoral atau
sebaliknya berdasarkan kajian kes.
Ciri ini dipanggil act utilitarianism. Misalnya aktiviti riadah dengan menonton
televisyen mungkin dianggap tidak bermoral karena masa tersebut sepatutnya
digunakan
untuk melakukan kerja-kerja yang
bermanfaat seperti kerja kebajikan
2.
Hedonistic utilitarianism
Ciri
yang kedua pula ialah mengambil kegembiraan, kesan daripada suatu tindakan
dianggap bermoral. Ini kerana Bentham
berpendapat, untuk menentukan benar atau salah
(moraliti) tingkah laku individu,
ianya perlu mengambilkira kesan dan akibatnya.
Misalnya tindakan atau perbuatan yang
boleh meningkatkan ciri kesetiaan dan persahabatan,
sehingga mencetuskan ciri kegembiraan.
Memutuskan persahabatan tetapi membahagiakan
kedua-dua pihak yang terlibat adalah
suatu yang dianggap bermoral.
Referensi
:
Komputer,
Etika & Sosial (05/06)
FTSM - Fakulti Teknologi dan Sains Maklumat, UKM
FTSM - Fakulti Teknologi dan Sains Maklumat, UKM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar