Jumat, 18 November 2011

Teori Etika Utilitarianisme




 Nama                : Maharany Amalia Wardhany
             NPM                 : 1041010001
Jurusan            : Administrasi Negara
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN
“JAWA TIMUR” SURABAYA

Utilitarianisme ialah teori etika yang juga dikenali sebagai consequentialism yang membuat kita berpikir mengenai kebaikan terbesar (kenikmatan) untuk jumlah terbanyak, dan cedera terkecil (rasa sakit) untuk jumlah terkecil. Tetapi, kadang-kadang menjadi sangat sulit untuk memberi nilai pada rasa sakit dan kenikmatan untuk orang yang berbeda. Bagaimana kita menyeimbangkan melindungi otonomi seseorang atau otonomi atau kepentingan semua orang lain?

Aristoteles dalam Nicomachean Ethics menulis bahwa moralitas ialah pencarian “kebaikan akhir” atau “kebaikan unggul”. Ini dapat diterima, tetapi pertanyaannya ialah tetap bagaimana mendefinisikan kebaikan akhir itu? Kebaikan akhir itu seringkali ditafsirkan sebagai kebahagiaan, yang membawa kita ke satu teori utama teleologi, utilitarianisme. Utilitarianisme memandang pada konsekuensi suatu tindakan, dan didasarkan pada karya Jeremy Bentham (1748-1832) dan John Stuart Mill (1806-1873). Ada kesamaan sejarah dengan pemikir lain dalam kebudayaan yang berbeda, misalnya apa yang diajarkan oleh Mo Tzu di Cina dalam abad ke-6 SM. “Prinsip utilitas menekankan bahwa kita perlu selalu menghasilkan keseimbangan maksimum antara kesenangan/kenikmatan atas rasa sakit, atau kebaikan atas cedera, atau nilai positif atas tak-bernilai.” 

 Jeremy Bentham (1748-1832) dan John Stuart Mill (1806-1873) adalah dua orang tokoh yang dikaitkan dengan teori ini. Bentham mengenal pasti 7 elemen yang perlu dipertimbangkan untuk mengukur keseronokan mencipta kalkulus Hedonistik Bentham yang memberi skala antara -10 hingga +10.
Elemen yang dimaksudkan oleh Jeremy Bentham ialah:
1.       Intensiti
2.       jangka masa
3.        kepastian
4.        Kesegeraan
5.       kesadaran
6.       keberkesanan
7.       dan had atau batasan.
1. Intensiti bermaksud kedalaman. Sejauh manakah dalamnya kesan pengalaman terhadap seseorang.
2. Jangka masa. Berapa lamakah keseronokan atau kesengsaraan akan berakhir?
3. Kepastian. Adakah anda pasti sama ada mengalami keseronokan atau kesengsaraan akibat sesuatu yang berlaku.
4. Kesegeraan. Kepantasan anda mengalami rasa seronok atau sebaliknya.
5. Kesadaran. Apakah kemungkinan anda mengalami rasa seronok pada masa akan datang?
6. Keberkesanan. Apakah kemungkinan anda mengalami rasa sengsara pada masa hadapan?
Mangsa tragedi selalunya sentiasa berasa takut dan risau
7. Had atau batasan. Berapa kerapkah kesengsaraan dan keseronokan dicetuskan dalam kehidupan orang lain? Jika jumlah skor kesengsaraan melebihi keseronokan maka sesuatu perbuatan tersebut adalah sememangnya salah dan tidak beretika.

Mill membedakan antara keseronokan dengan memasukkan aspek kualiti. Mill mengukur kualiti dan kuantiti sekaligus. Menurut Mill, petunjuk kualiti keseronokan adalah seperti tinggi/rendah, baik/buruk, objektif/subjektif, dan baru/lama. Faktor yang boleh mempengaruhi keseronokan pula ialah kecerdikan, pendidikan, sensitiviti, bermoral dalam tindakan dan
kesihatan yang baik. Utilitarianisme pada peringkat paling rendah dipanggil ‘act utilitarinisme’. Kita harus bertanya kepada diri sendiri mengenai kesan akibat sesuatu tindakan dalam keadaan tertentu ke atas pihak-pihak yang terlibat sebelum sebarang tindakan diambil. Sekiranya tindakan tersebut menghasilkan kebaikan maka ia dianggap betul.

Awalnya ahli-ahli filsafat yang mengikuti jalan berpikir ini memfokuskan pada nilai kebahagiaan; tetapi, akhir-akhir ini nilai intrinsik termasuk persahabatan, pengetahuan, kesehatan, keindahan, otonomi, pencapian dan sukses, pemahaman, kesenangan dan hubungan pribadi yang mendalam telah ditambahkan. Utilitarianisme dapat berupa hal yang dingin dan berperhitungan, tetapi telah dinyatakan oleh para pendirinya dan orang-orang lain sebagai yang merupakan pernyataan cinta persaudaraan. Utilitarianisme secara internal koheren, sederhana dan menyeluruh dan dapat memecahkan dilema. Kita dapat juga mempersoalkan kebahagiaan untuk orang yang akan hadir (potensial), jadi menerapkannya bagi persoalan reproduksi manusia.
Tetapi, mungkin tidak ada konsekuensialis murni. Jika ada sedikit perbedaan dalam konsekuensi, sebagian besar orang akan memandang salah untuk mengingkari janji, dan akan mengambil keputusan atas dasar keterikatan itu. Semua masyarakat menerima sejenis hak milik, dan sebagian besar tidak menerima mencuri dari si kaya untuk diberikan pada si miskin, walaupun ini akan menolong lebih banyak orang. Tetapi, banyak masyarakat menerima skala pajak yang berbeda, mengenakan pajak terhadap penerima penghasilan yang lebih tinggi semakin besar. Kebanyakan orang menghargai motif yang baik di atas motif jelek, walaupun konsekuensinya dapat sama. Juga pemikiran para konsekuensialis mungkin memperkenankan pelanggaran hak-hak asasi manusia, dan dapat secara berlebihan membatasi otonomi.
Masalah etika lain dari utilitarianisme ialah bahwa kepentingan dari mayoritas lebih penting dari kepentingan golongan minoritas, karena utilitas harus dimaksimumkan. Dengan cara ini hal ini bersesuaian dengan demokrasi, dan sistem referendum untuk menentukan kebijakan umum dan hukum. Membuat sebagian besar orang berbahagia dalam sebagian besar waktu lebih penting, walaupun sedikit orang atau organisme boleh jadi tidak berbahagia. Tetapi, untuk membuat orang berbahagia menjadi satu sasaran pokok cinta

Jenis-jenis Utilitarianisme
1.       Act utilitarianism
Ciri yang pertama adalah merekodkan akibat sesuatu perbuatan sama ada bermoral atau
sebaliknya berdasarkan kajian kes. Ciri ini dipanggil act utilitarianism. Misalnya aktiviti riadah dengan menonton televisyen mungkin dianggap tidak bermoral karena masa tersebut sepatutnya digunakan
untuk melakukan kerja-kerja yang bermanfaat seperti kerja kebajikan
2.       Hedonistic utilitarianism
Ciri yang kedua pula ialah mengambil kegembiraan, kesan daripada suatu tindakan
dianggap bermoral. Ini kerana Bentham berpendapat, untuk menentukan benar atau salah
(moraliti) tingkah laku individu, ianya perlu mengambilkira kesan dan akibatnya.
Misalnya tindakan atau perbuatan yang boleh meningkatkan ciri kesetiaan dan persahabatan,
sehingga mencetuskan ciri kegembiraan. Memutuskan persahabatan tetapi membahagiakan
kedua-dua pihak yang terlibat adalah suatu yang dianggap bermoral.


Referensi :
 

Komputer, Etika & Sosial (05/06)
FTSM - Fakulti Teknologi dan Sains Maklumat, UKM